Ketika sekolah kembali dibuka penuh, banyak orang mengira persoalan pendidikan akan kembali seperti sebelumnya. slot gacor Kenyataannya, guru di berbagai jenjang menemukan hal yang berbeda. Siswa hadir secara fisik, tapi kemampuan mereka tidak sesuai dengan tingkat kelas yang sedang dijalani. Ada anak kelas lima yang membacanya masih terbata, ada siswa menengah pertama yang belum lancar operasi pecahan. Selisih inilah yang kemudian dibicarakan sebagai ketertinggalan belajar, dan sisa-sisanya masih terasa sampai sekarang.
Kenapa Dampaknya Tidak Merata
Selama periode belajar dari rumah, pengalaman siswa sangat berbeda tergantung keadaan keluarga. Ada anak yang punya perangkat sendiri, jaringan stabil, dan orang tua yang bisa mendampingi. Ada anak yang bergantian memakai satu ponsel dengan saudara, mengerjakan tugas malam hari setelah orang tua pulang kerja, atau bahkan berhenti mengikuti pelajaran sama sekali.
Karena itu, dampaknya tidak berupa penurunan merata, melainkan pelebaran jarak. Siswa dari keluarga dengan sumber daya cukup relatif bisa bertahan, sementara siswa yang sebelumnya sudah tertinggal makin jauh dari kelompok lainnya.
Mengapa Kenaikan Kelas Menyembunyikan Masalah
Selama periode tersebut, hampir semua siswa naik kelas. Keputusan ini masuk akal karena menahan siswa dalam keadaan darurat justru menimbulkan masalah lain. Namun akibatnya, catatan resmi menunjukkan siswa yang sudah menyelesaikan tingkat tertentu, sementara penguasaan materinya belum sampai ke sana.
Guru di kelas berikutnya kemudian menghadapi pilihan sulit. Mengajar sesuai kurikulum kelas yang berjalan berarti sebagian besar siswa tidak akan mengikuti. Mengulang materi kelas sebelumnya berarti target kurikulum tahun ini tidak tercapai, dan masalahnya berpindah ke guru tahun depan.
Pendekatan yang Terbukti Membantu
Beberapa pendekatan menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding sekadar menambah jam pelajaran. Pengajaran dalam kelompok kecil dengan tingkat kemampuan serupa memungkinkan penanganan yang lebih tepat sasaran. Kelompok berisi empat sampai enam siswa dengan sesi rutin beberapa kali seminggu memberi hasil yang lebih terlihat dibanding tambahan pelajaran untuk satu kelas penuh.
Pendekatan lain adalah mengajar sesuai tingkat kemampuan, bukan sesuai tingkat kelas, khususnya untuk kemampuan dasar membaca dan berhitung. Siswa dikelompokkan berdasarkan hasil penilaian awal, lalu naik kelompok ketika sudah menguasai. Cara ini menuntut penataan jadwal yang tidak mudah, tapi menghindari situasi siswa duduk di kelas mendengarkan materi yang berada jauh di atas kemampuannya.
Penilaian Awal yang Sering Dilewati
Langkah pertama yang paling sering dilewati adalah mengetahui posisi sebenarnya setiap siswa. Tanpa penilaian awal yang sederhana dan cepat, penanganan dilakukan berdasarkan dugaan. Program tambahan pun diberikan kepada kelompok yang salah, atau materinya tidak sesuai dengan kesenjangan yang sebenarnya.
Penilaian yang dimaksud tidak perlu berupa ujian formal. Beberapa soal diagnostik singkat sudah cukup untuk memetakan siapa yang menguasai dan siapa yang belum, asal hasilnya benar-benar digunakan untuk mengatur pengajaran, bukan sekadar dilaporkan.
Dampak yang Bukan Hanya Akademik
Selain kemampuan akademik, guru juga melaporkan perubahan pada kebiasaan bersekolah. Sebagian siswa butuh waktu untuk kembali terbiasa duduk mengikuti pelajaran dalam durasi panjang, bekerja dalam kelompok, dan menyelesaikan konflik dengan teman secara langsung.
Kelompok yang paling terdampak adalah siswa yang memasuki tahun-tahun awal sekolah selama periode tersebut, karena kebiasaan dasar bersekolah biasanya terbentuk di masa itu.
Penutup
Ketertinggalan belajar tidak hilang dengan sendirinya begitu kegiatan sekolah kembali normal. Selisih kemampuan yang terbentuk pada masa itu terbawa ke jenjang berikutnya dan menumpuk, karena materi baru selalu bertumpu pada materi sebelumnya. Penanganannya menuntut pengukuran posisi awal siswa dan pengajaran yang menyesuaikan kenyataan tersebut, sesuatu yang lebih menuntut daripada sekadar menambah jam belajar di sore hari.